Sunday, May 22, 2022

Detik-detik menjelang  hukuman mati dilaksanakan

Secara Rawak

JAKARTA: Pelaksanaan hukuman mati   harus melalui beberapa proses yang diatur  selaras Peraturan Ketua Kepolisian RI Nombor 12 tahun 2010.

Menurut Tempo, ada empat tahap tata cara pelaksanaannya dimulai dari tahap persiapan; pengorganisasian; pelaksanaan; dan pengakhiran.

Setelah tahap persiapan dan pengorganisasian, tibalah detik-detik eksekusi. “Regu tembak beranggotakan 12 personel yang ditugasi secara khusus ini akan menembak secara serentak dan melakukan geladi pelaksanaan sebelumnya.

Berikut pelaksanaan eksekusi mati:

Terhukum diberi pakaian yang bersih, sederhana, dan berwarna putih sebelum dibawa ke lokasi pelaksanaan pidana mati. Ia dapat didampingi seorang rohaniawan.

“Regu pendukung telah siap di tempat yang telah ditentukan, dua jam sebelum waktu pelaksanaan hukuman mati. Sedangkan regu tembak telah siap di lokasi satu jam sebelum pelaksanaan dan berkumpul di daerah persiapan,”  kata Tempo.

Regu tembak mengatur posisi dan meletakkan 12 pucuk  senjata api laras panjang di depan posisi tiang pelaksanaan hukuman  mati pada jarak 5-10 meter dan kembali ke lokasi persiapan.

Komandan Pelaksana melaporkan kesiapan regunya kepada pelaksana hukuman mati  dengan ucapan, ”Lapor, pelaksanaan hukuman mati siap.” Jaksa Eksekutor memeriksa terhukum mati dan senjata yang digunakan, pelaksana hukuman mati kembali ke tempat asal dan memerintahkan Komandan Pelaksana dengan ucapan, ”Laksanakan!” Komandan Pelaksana mengulangi dengan ucapan, ”Laksanakan!”

“Komandan Pelaksana memerintahkan Komandan Regu penembak untuk mengisi amunisi dan mengunci senjata ke dalam 12 pucuk senjata api laras panjang dengan tiga butir peluru tajam dan sembilan peluru hampa. Masing-masing senjata api berisi sebutir peluru, disaksikan oleh Jaksa Eksekutor. Antara anggota regu tembak, tidak ada yang tahu senjata siapa berisi peluru tajam,” kata Tempo lagi.

Jaksa Eksekutor memerintahkan Komandan Regu 2 dengan anggota regunya untuk membawa terhukum ke posisi penembakan, melepas borgol, lalu mengikat kedua tangan dan kakinya ke tiang penyangga pelaksanaan pidana mati dengan posisi berdiri, duduk, atau berlutut. Kecuali ditentukan lain oleh jaksa

Terhukum mati diberi kesempatan terakhir untuk menenangkan diri paling lama tiga minit dengan pendampingan rohaniawan.

Setelah tiga minit, Komandan Regu 2 menutup mata terhukum dengan kain hitam, kecuali jika menolak.

“Doktor  akan memberi tanda hitam pada baju yang hendak dihukum gantung tepat pada posisi jantung sebagai sasaran penembakan. Kemudian doktor dan Regu 2 menjauhkan diri dari terpidana,’ jelasnya lagi.

Komandan Regu 2 melapor kepada jaksa bahawa terpidana telah siap untuk dikenakan hukuman mati mati. Jaksa Eksekutor memberikan tanda/isyarat kepada Komandan Pelaksana untuk segera dilaksanakan penembakan terhadapnya.

“Komandan Pelaksana memberikan tanda/isyarat kepada Komandan regu tembak agar mengambil senjata dengan posisi depan senjata dan menghadap ke arah terpidana. Komandan Pelaksana mengambil tempat di samping kanan depan regu tembak dengan menghadap ke arah serong kiri regu tembak dan mengambil sikap istirahat di tempat,”  katanya lagi.

Pada ketika itu  Komandan Pelaksana mengambil sikap sempurna, regu tembak mengambil sikap salvo ke atas. Komandan Pelaksana menghunus pedang sebagai isyarat bagi regu tembak untuk membidik sasaran ke arah jantung terpidana.

Komandan Pelaksana mengacungkan pedang ke depan setinggi dagu sebagai isyarat kepada regu tembak untuk membuka kunci senjata. Komandan Pelaksana menghentakkan pedang ke bawah pada posisi hormat pedang sebagai isyarat kepada regu penembak untuk menembak serentak.

Setelah penembakan selesai, Komandan Pelaksana menyarungkan pedang sebagai isyarat kepada regu penembak mengambil sikap depan senjata.

Komandan Pelaksana, jaksa eksekutor, dan doktor memeriksa kondisi terpidana. Jika menurut doktor  individu yang deikenakan hukuman mati masih menunjukkan anda kehidupan, jaksa eksekutor memerintahkan Komandan Pelaksana melakukan tembakan pengakhir.

Komandan Pelaksana memerintahkan komandan regu penembak untuk melakukan tembakan pengakhir dengan menempelkan hujung laras senjata genggam pada pelipis terpidana tepat di atas telinga.

Tembakan pengakhir ini dapat diulangi jika menurut dokter masih  ada tanda kehidupan.

Pelaksanaan hukuman mati dinyatakan selesai, jika doktor sudah menyatakan bahawa tidak ada lagi tanda kehidupan pada terpidana.

Selesai pelaksanaan penembakan, komandan regu tembak memerintahkan anggotanya untuk melepas magasin dan mengosongkan senjatanya.

Komandan Pelaksana melaporkan hasil penembakan kepada Jaksa Eksekutor dengan ucapan, ”Pelaksanaan hukuman mati selesai.”

Ikuti Facebook Kami

Artikel Terbaru