JAKARTA: Pusat Penelitian Kependudukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengenal pasti tiga faktor yang membuat Covid-19 menjadi masalah yang sukar selesai khususnya di Indonesia.

Peneliti Penduduk dan Lingkungan LIPI, Lengga Pradipta mengatakan, tiga faktor tersebut iaitu dalaman, luaran, dan institusional.

Katanya, faktor dalaman berasal daripada masyarakat Indonesia sendiri. Misalnya, di banyak daerah masih banyak masyarakat yang tidak mematahui anjuran untuk tidak beribadah secara berjemaah di tempat ibadah.

“Di daerah-daerah yang agamanya kuat, mereka percaya bahawa kematian datangnya daripada Tuhan. Jadi, Covid-19 adalah pencetus  saja, tetapi yang punya kuasa itu Tuhan. Ini mengubah stigmanya agak sulit,” kata Lengga seperti dipetik Republika.

Faktor kedua  berkaitan dengan faktor luaran masyarakat iaitu banyaknya media yang tidak berwibawa.

“Begitu banyak propaganda beredar di Internet menyebabkan masyarakat berasa resah,” katanya terutama informasi yang beredar di media sosial.

“Di Google banyak media yang kredibilitinya belum tentu, tapi sudah membuat berita tentang Covid-19. Kemudian,  media sosial, ada berita yang menjelaskan Covid-19 itu justeru menyebabkan saya jadi takut,” kata Lengga lagi.

Faktor ketiga yang bersifat institusional. Beliau menjelaskan, dinamika pernyataan pemerintah yang dimuat di media.

Pada Januari, pada saat negara-negara lain mempersiapkan diri dengan Covid-19, naratif yang beredar di Indonesia ialah negara ini tidak akan mudah tertular.

Ternyata, pada Mac 2020, terdapat kes jangkitan pertama di Indonesia. Sejak itu, jumlah kes positif Covid-19 di Indonesia terus bertambah dengan penambahan yang cukup besar serta tidak menentu setiap harinya.

Setakat Jumaat, jumlah kes jangkitan di negara 270 juta jiwa itu ialah 16,437 manakala kes kematian ialah 1,076.

“Data kita masih miskin. Kemudian tidak ada ketelusan awal-awalnya terhadap jumlah pesakit dan jumlah orang yang terdampak dan orang yang meninggal. Dalam bulan pertama, itu masih simpang-siur,” kata beliau lagi.