JAKARTA: Kerajaan Indonesia menghantar pasukan  ke Malaysia untuk memberi bantuan undang-undang terhadap Siti Aishah yang ditangkap berhubung kes pembunuhan Kim Jong-Nam, abang tiri pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un.

Semalam polis Malaysia mengumumkan telah menangkap Siti Aishah, perempuan kelahiran Serang, Banten, Indonesia.

Wanita itu dikenal pasti daripada  rakaman CCTV, video pengawas di KLIA.

Menurut polis, ia sedang sendirian ketika ditangkap.

Penyelidikan terhadap Siti Aishah masih dilanjutkan, kata Ketua Polis Negara  Tan Sri Khalid Abu Bakar.

Pengarah Perlindungan  Warganegara Indionesia (WNI) dari Kementerian Luar, Lalu Muhammad Iqbal  seperti dipetik BBC Indonesia berkata, KBRI Kuala Lumpur telah berkoordinasi dengan pihak berkuasa Malaysia, “terkait adanya pemberitaan mengenai ditangkapnya seorang perempuan pemegang pasport Indonesia yang diduga terlibat dalam pembunuhan seorang laki-laki asal Korea Utara,” kata Lalu dalam pernyataan bertulisnya kepada BBC Indonesia.

“Berdasar data diri yang disampaikan oleh pihak berkuasa keamanan Malaysia, KBRI telah melakukan verifikasi dan berdasarkan data sementara yang ada di KBRI perempuan tersebut berstatus WNI,” tambah Lalu Muhammad Iqbal.

“Bertindak susulan hasil verifikasi tersebut, KBRI telah meminta akses kekonsuleran kepada Pemerintah Malaysia untuk dapat memberikan pendampingan dalam rangka memastikan hak-hak hukumnya terpenuh.” katanya pula, sambil menambah bahawa staf KBRI sudah dikirimkan ke Selangor.

Kim Jong-nam maut setelah diserang oleh dua perempuan, dengan campuran zat kimia tertentu.

Pelbagai spekulasi menyatakan Kim dibunuh atas perintah pemerintah Korea Utara, namun belum ada bukti yang mendukung.

Kim Jong-nam hidup jauh daripada sorotan publik dan disebut banyak menghabiskan waktu di luar negeri, terutama di Macau, China, dan Singapura, sejak dilangkahi oleh adik tirinya dalam pergantian kekuasaan,ketika ayah mereka, Kim Jong-il, meninggal dunia pada 2011.

Kim Jong-nam dilaporkan telah menjadi sasaran pembunuhan selama beberapa waktu terakhir, kata laporan itu lagi.

Bukan kali pertama Korea Utara terlibat dalam pembunuhan, penculikan, dan serangan yang melibatkan agen rahsia. – Sarawakvoice