Friday, August 19, 2022

10 orang pengedar dadah tetap akan ditembak mati

Secara Rawak

JAKARTA: Peguam Negara Indonesia memberitahu akan tetap meneruskan hukuman tembak sampai mati terhadap 10 banduan yang didapati bersalah dalam kes jenayah dadah yang ditangguhkan minggu lalu.

“Semua harus kami tunggu dan pastikan. Ini bukan pembatalan, tapi ditunda saja,” kata Kepala Pusat Penerangan Hukum, Mohammad Rum seperti dipetik tempo.com.

13731984_1558733944433911_4656186413798935737_oJumaat minggu lalu, 10 daripada 14 daripada orang yang sepatutnya dihukum mati, ditangguhkan hukuman mereka.

Mereka ialah Merri Utami asal Indonesia, Pujo Lestari (Indonesia), Agus Hadi (Indonesia), Zulfiqar Ali (Pakistan), Gurdip Singh (India), Onkonkwo Nonso Kingsley (Nigeria), Obina Nwajagu (Nigeria), Ozias Sibanda (Zimbabwe), Federik Luttar (Zimbabwe), dan Eugene Ape (Nigeria).

Manakala empat pesalah lain, iaitu Freddy Budiman (Indonesia), Seck Osmane (Senegal), serta Michael Titus dan Humprey Ejike (Nigeria), tetap ditembak mati.

Ia merupakan kali ketiga Indonesia di bawah pentadbiran dua tahun Presiden Joko Widodo melaksanakan hukuman mati terhadap penjenayah khususnya pesalah dadah.
Pelaksanaan hukuman ke atas empat pengedar dadah itu telah dijalankan pada jam 12:45 pagi waktu tempatan di Penjara Nusakambangan, Indonesia.

Rum enggan menjelaskan alasan penundaan sebahagian pesalah itu. Ia hanya mengatakan hukuman akan dilakukan sebelum tahun baharu. Peguam Negara telah mengajukan anggaran pelaksanaan 14 hukuman yang menghabiskan Rp 200 juta seorang pesalah.
“Masih dapat digunakan hingga 31 Desember kerena masuk tahun 2016,” kata Rum.

Mengenai sejumlah pesalah yang sedang mengajukan permohonan pengampunan, menurut Rum, hal itu tidak akan membatalkan proses hukuman yang telah mendapat kekuatan hukum tetap melalui peninjauan kembali oleh Mahkamah Agung. “Bisa 10 orang itu, atau bertambah lagi dengan yang sekarang sedang proses penyelesaian. Lihat nanti saja,” ujarnya.

Sementara itu, protes terhadap pelaksanaan hukuman mati berkenaan semakin hebat. Koalisi Masyarakat Menolak Hukuman Mati menyatakan pelaksanaan hukuman mati melanggar aturan dan tidak adil.

“Ke-14 pesalah itu menempuh jalur hukum yang sama. Informasi eksekusi juga diterima pada waktu yang sama,” kata anggota koalisi dan peneliti Institute for Criminal Justice Reform, Erasmus Napitupulu, kemarin.

Portal itu melaporkan pada 2008, terdapat 3.3 juta penagih dadah di Indonesia, dan jumlah itu meningkat menjadi 5.1 juta pada 2015.

Padahal, bagi tempoh 2004 hingga 2014, 21 orang dihukum mati membabitkan pengedar dadah. – Sarawakvoice.com

Ikuti Facebook Kami

Artikel Terbaru