JAKARTA: Ketika Malaysia heboh tentang isu vaksin imunisasi bayi, isu berkaitan dengan  komplotan vaksin palsu yang telah beroperasi sejak tahun 2003 di Indonesia, tiba-tiba menjadi isu hangat.

“Mengapa sepak terjang mereka tidak tercium oleh pihak berkuasa selama 13 tahun?,” lapor detik.com.

“Ya, karena impak dari vaksin ini tidak nampak. Vaksin palsu atau asli ketika diberikan tidak nampak secara langsung, baru  setelah ada kuman yang menyerang dia karena dia tidak divaksin (yang asli), baru nampak kesannya,” kata Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Mabes Polri Brigjen Agung Setya menjawab pertanyaan wartawan di Bareskrim Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta Selatan, Isnin  sebagaimana dipetik portal berkenaan.

Peredaran vaksin palsu terbongkar ekoran laporan sebuah rumah sakit di Bogor yang curiga dengan vaksin yang dikirimkan pengedar.

Setelah diteliti di makmal, ternyata palsu.

Polis telah menangkap 15 orang dalam kes ini. Antara lain mereka ditangkap di Jakarta, Bekasi, Tangsel, dan Semarang.

Mereka berperanan sebagai pengeluar, pengedar, dan pembuat/pencetak label dan logo vaksin.

Harga vaksin palsu lebih murah Rp 200 ribu-400 ribu dibandingkan harga vaksin asli yang mencapai Rp 900 ribu.

“Pembuat vaksin palsu meraih keuntungan hingga ratusan juta sebulan,” kata laporan itu. – Sarawakvoice.com