China bantah Indonesia guna nama Kepulauan Natuna

JAKARTA: Kementerian Luar China berkata, penggunaan nama baharu untuk perairan di utara Kepulauan Natuna oleh Indonesia sebagai hal ‘yang tidak kondusif’.

“Negara-negara tertentu yang melakukan penamaan kembali, itu tak ada ertinya sama sekali dan tidak kondusif dalam usaha mendorong standardisasi penamaan geografi,” kata Geng Shuang, jurucakap Kementerian Luar China, di Beijing, Jumaat seperti dipetik BBC.

Terdahulu, Kerajaan Indonesia melalui Kementerian Koordinator Kemaritiman mengumumkan secara rasmi nama baharu perairan di utara Kepulauan Natuna yang berbatasan langsung dengan Laut China Selatan, yang diberi nama Laut Natuna Utara.

Foto Google

Timbalan I Kementerian Koordinator Kemaritiman, Arif Havas Oegroseno berkata, kerajaan memilih nama Laut Natuna Utara berdasarkan penamaan yang telah lebih dulu digunakan industri minyak dan gas untuk perairan tersebut.

“Selama ini sudah ada sejumlah kegiatan minyak dan gas dengan menggunakan nama Natuna Utara dan Natuna Selatan.

Supaya ada satu kejelasan dan kesamaan dengan landas kontinen, pasukan nasional sepakat menamakan kolom air itu sebagai Laut Natuna Utara,” jelas Arif.

Kerajaan Indonesia, kata Arif, yakin penamaan itu tidak akan menyulut sengketa baharu berkaitan Laut China Selatan. Ia mengatakan pemerintah pun tidak berkewajiban meminta pertimbangan mahupun mengumumkan penamaan itu kepada negara-negara tetangga.

“Pemerintah (Indonesia) punya kepentingan memperbaharui nama kerana landas kontinen itu milik Indonesia. Saya tidak tahu Malaysia dan negara lain perlu tahu,” ujar Arif.

Foto WordPress

Namun Kementerian Luar China, kata BBC lagi, mengatakan mestinya negara-negara di kawasan ‘menjaga suasana kondusif di perairan di Laut China Selatan’ yang diakui ‘tak selalu mudah untuk dijaga atau dipertahankan’.

“Pemerintah tidak ada sengketa dengan China di perbatasan karena Indonesia menggunakan zona maritim sesuai konvensi hukum laut. Peta Indonesia memiliki koordinat, tanggal, dan data yang jelas,” ujarnya.

Menurut Arif, kerajaan Indonesia tidak akan berunding dengan negara lain yang mengajukan tuntutan tanpa dasar konvensi hukum laut, termasuk China yang berkeras dengan peta sembilan garis putus mereka.

Pada Mei 2015, Kementerian Luar China memprotes penangkapan lapan nelayan mereka yang masuk ke perairan Natuna.

Indonesia mempertahankan, penangkapan dilakukan kerana nelayan tersebut melanggar zon ekonomi eksklusif dan dipercayai  melakukan pencurian ikan. – Sarawakvoice